Namun, dibalik 'sogokan'
tersebut, ada misi tersembunyi yang akan dijalankan para calon pemimpin
baik itu legislatif, eksekutif maupun di lembaga yudikatif. Janji akan
pemberantasan korupsi terhadap koruptor Indonesia justru hanya
terucap saat sumbangan suara diperlukan, jika kelak telah menduduki
jabatan, maka semua yang pernah dijanjikan tidak pernah direalisasikan.
Rakyat kecil yang tidak banyak tahu dalam urusan ini lebih bersifat
pasif ditambah ketakutan yang mendarah daging sebab pemerintahan
Indonesia dulu sempat cenderung ke arah otoriter.
1. Ketua Forum Redam Korupsi (FORK)-Cabang Jambi.
2. Ketua Lembaga Kajian Sosial Ekonomi-Wilayah Jambi.
3. Koordinator Konsultasi Hukum bagi Rakyat-Wilayah Jambi.
4. Ketua Bidang Organisasi Kongres Advokat Indonesia (KAI).
5. Koordinator Advokat Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Penasehat Hukum Indonesia-Wilayah Sumatera.
Selasa, 12 November 2013
Koruptor Indonesia Merajalela -
Jumat, 25 Oktober 2013
Keadilan hukum dan Keadilan Sosial akankah Menjauhkan Asas Legalitas dan Kepastian Hukum ?
Asas Legalitas masih harus dipandang perlu eksistensinya dalam
sistem Hukum Pidana Indonesia, hal ini disebabkan selain adanya suatu
kepastian hukum, juga menghindari adanya suatu bentuk
kesewenang-wenangan dari aparatur penegak hukum maupun penguasa dalam
konteks yang lebih luas. Untuk mempertegas permasalahan di atas yaitu
apabila terjadi pertentangan mana yang didahulukan antara kepastian
hukum dan keadilan, perlu saya tulis bunyi pasal 12 draft RUU KUHP
2005-2006 yang kurang lebih berbunyi ” Dalam mempertimbangkan hukum yang
diterapkan, hukum sejauh mungkin menerapkan keadilan di atas kepastian
hukum”. RUU KUHP mungkin kedepan bisa di jadikan guidance (penunjuk)
apabila ada dilemma pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan.
Hal itu haruslah diperhatikan karena sering kali keadilan terdesak, maka
apabila keadilan dan kepastian hukum saling mendesak maka hakim sejauh
mungkin mengutamakan keadilan di atas kepastian hukum. Karena muara
akhir dari tujuan hukum adalah keadilan social.
Perubahan-Perubahan Politik, Ekonomi, Sosial, dan Budaya Akibat Perluasan Kolonialisme dan Imperialisme di Indonesia
Proses interaksi kekuasaan antara
negara-negara tradisional ( kerajaan) milik pribumi dan kekuasaan
Belanda dalam abad ke-19, menunjukkan dua perkembangan yang sangat
berbeda. Di satu pihak tampak makin meluasnya kekuasaan kolonial dan
imperialiasme Belanda; sedangkan di lain pihak terlihat makin merosotnya
kekuasaan tradisional milik pribumi. Meluasnya kolonialisme dan
imperialisme Belanda di Indonesia membawa akibat terhadap perubahan
dalam berbagai segi kehidupan, seperti, politik, ekonomi, sosial, dan
budaya.
Memberantas Korupsi dengan Teknologi
Korupsi telah menjadi laksana benalu yang menghisap sumber daya
pertumbuhan bangsa Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terhambat
dengan tingginya tingkat korupsi yang terjadi. Teknologi telah
menunjukkan perannya dalam mengatasi berbagai masalah. Apa kira kira
peran yang dapat dimainkan oleh teknologi dalam pemberantasan korupsi.
Word Economic Forum mengumumkan survey tentang factor factor yang
berpengaruh pada pengembangan kegiatan usaha di Indonesia. Ada 15 faktor
yang diindikasikan berpengaruh pada laju pengembangan kegiatan usaha:
Inefficient government bureaucracy, Corruption, Inadequate supply of
infrastructure, Access to financing, Inflation, Government instability,
Policy instability, Tax regulations, Inadequately educated workforce,
Restrictive labor regulations, Poor work ethic in national labor force,
Crime and theft, Tax rates, Poor public health, Foreign currency
regulations. Dari 15 faktor tersebut, hasil survei menunjukkan bahwa
korupsi menempati peringkat ke dua dengan persentase jawaban sebesar
16,0% dari responden survei. Tempat teratas ditempati oleh birokrasi
yang tidak efisien sebesar 16,2%. Hasil ini merupakan indikasi betapa
besarnya dampak negatif korupsi dalam menghambat kemajuan perekonomian
nasional. Oleh sebab itu, perlu dilakukan berbagai langkah dengan
mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada untuk memberantas korupsi.
Salah satu factor yang perlu dimaksimalkan adalah peran teknologi.
Sabtu, 12 Oktober 2013
Korupsi Politik dan Politik Korupsi
Penegak hukum, media dan masyarakat
Indonesia menyorot kembali banyaknya kasus korupsi yang diduga
melibatkan sejumlah menteri. Bahkan Presiden menyatakan akan melakukan
evaluasi dan koreksi terhadap para Menterinya atas permasalahan
tersebut. Hal ini sebenarnya bukan persoalan baru dalam kasus korupsi di
Indonesia. Sejumlah Menteri dalam kabinet sebelumnya ada yang masih
berstatus menjadi tersangka dan ada pula yang menjadi terpidana dalam
kasus korupsi di Kementerian yang dipimpinnya. Mengapa kasus korupsi
yang melibatkan para Menteri ini terjadi? Tulisan ini mencoba untuk
memberikan ulasan singkat mengenai hal ini.
Rabu, 09 Oktober 2013
Posisi Ekonomi Indonesia di Mata Dunia
Jika kita mencermati lebih jauh tentang posisi dan peta ekonomi dunia tersebut lalu sebenarnya posisi ekonomi indonesia di mata dunia itu seperti apa, karena ekonomi Indonesia menunjukan gejala yang stabil dan tahan krisis, dan menurut beberapa pihak di yakini memiliki posisi yang cukup bagus di dunia. Berikut coba kami paparkan posisi ekonomi indonesia di mata dunia.
Minggu, 06 Oktober 2013
Memproduksi Kejahatan
|
Kita
semua tentu menginginkan dunia ini aman-aman saja tanpa kejahatan, para
penjahat pensiun dan mungkin kita tidak lagi membutuhkan pengacara,
polisi, jaksa, hakim, sipir dan semua penjara ditutup. Termasuk Fakultas
Hukum mungkin juga ditutup. Namun apakah itu semua mungkin terjadi?
Karena faktanya kejahatan terus terjadi, terus bermetamorfosa sesuai
perkembangan masyarakat dan teknologi. Munculnya berbagai hitechcrime
dan transnationalcrime misalnya, menjadi tantangan berat bagi aparat
penegak hukum. Pelakunya pun tidak hanya orang perorang dengan perangai
dan penampilan jahat, tetapi kini yang berdasi, bergelar dan duduk
berkuasa pun turut berpartisipasi menjadi penjahat dengan caranya. Tidak
hanya orang, korporasi juga banyak terlibat kejahatan. Korbannya tidak
satu dua orang lagi, tetapi puluhan bahkan ribuan. Dengan demikian,
kapan kejahatan akan berakhir? |
Langganan:
Postingan (Atom)
